Minggu, 25 Desember 2011

Perjalanan Itu


Cirebon
18 Desember 2011
10.57 WIB

Hari ini aku bersiap-siap untuk memenuhi janji dengannya. Tujuan kami adalah berkunjung menemui "Mimi"—panggilan akang untuk ibunya—di Kuningan, tepatnya d Kutaraja, Maleber.
Aku pun berangkat menggunkan bis. Sudah lama sekali aku tidak menaiki bis menuju luar kota Cirebon. Rasanya perutku tergelitik, mengenang kembali memori dulu, dimana waktu aku masih SD ketika liburan datang, kemana-mana harus menggunakan bis.

Akhirnya aku sampai di Kuningan, Pertanian, aku menunggu di situ karena dia yang menyarankan. Dia berangkat dari Banjar, sedangkan aku dari Cirebon, dan untuk menghemat waktu kami bertemu di Kuningan, Pertanian, dan juga agar dia tidak perlu menjemputku di rumah. Namun ternyata dia masih dalam perjalanan menuju Kuningan. Aku duduk menunggunya datang, sambil menyapu  pemandangan sekitar—indah,batinku—kendaraan yang berlalu-lalang, udara yang sejuk, melihat para pelajar SMU yang telah kelar belajar seharian, petani yang bercocok tanam, anak kecil yang bermain di sawah, angin yang memainkan rok dan jilbabku, dan pesan-pesan singkat yang dia kirimkan padaku untuk bersabar menunggunya.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya dia tiba juga. Aku berdiri menghampirinya lalu mencium tangannya. Dia meminta maaf padaku karena lama menunggunya dan aku menjawab dengan seyum simpulku, karena tak kurasa bosan menunggunya berlama-lama, sebab banyak hal yang membuatku tak jenuh untuk menunggu. Lalu kami pun menghampiri angkot 01 yang menuju rumah Mimi. Namun ternyata untuk menuju rumah Mimi, kami harus menaiki tiga angkot—tak masalah pikirku—yang berbeda jurusan.

Setelah sampai Pasar Baru kami pun berpindah angkot. Angkot yang kami tumpangi kali ini adalah angkot 07. Tapi sebelumnya kami berkeliling untuk membeli buah tangan untuk Mimi dan keluarga di rumah, dia menjatuhkan pilihan pada buah durian. Akhirnya kami berkeliling mencari buah durian, kesana-kemari, berputar-puar mencari, namun ternyata yang menjual buah durian hanya satu kios. Hmm...ragu untuk membeli, karena buahnya berukuran sedang, tidak besar, tapi karena dia tetap membeli durian itu. 

Setelah memberikan uang kepada si penjual durian kami pun naik angkot kembali. Trayek angkot 07 melewati Kuningan kota, namun setelah itu masuk ke perkampungan warga, lalu melewati sawah-sawah yang membentang luas di kanan-kirinya, dan sampailah kami di terminal kecil itu. Terminal kecil yang berisikan beberapa angkot yang berbeda jurusan dan berbeda warna. Sepi. Hanya beberapa angkot yang sedang menunggu penunmpang, bila angkot sudah terisi penuh oleh penumpang, barulah angkotpun melaju. Ya, itupun terjadi pada angkot yang kami tumpangi kali ini. Angkot terakhir membawa kami berwarna hijau terang dengan list merah di tengahnya.


Kembali pemandangan yang tersaji di luar sana adalah hamparan sawah hijau yang luas dan angin yang bermain dengan dedaunan padi seolah sudah menjadi sahabat setia yang tak terpisahkan. Diselingi candaannya padaku, dan celoteh para penumpang yang begitu akrab satu sama lain —padahal mereka tak kenal satu dengan yang lainnya—ini yang membuatku senang, sikap mereka sangat ramah dan hangat yang membuat perjalanan ini sangat menyengkan, jauh berbeda dengan suasana kota yang sangat acuh. Dan benar perjalanan jauh pun, berubah menjadi singkat.

Di sebrang mesjid At-Taqwa itu kami turun, dan kulihat plang yang bertuliskan "Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Jauhar". Wah..!! sudah sampai. berjalan melewati beberapa rumah penduduk, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. 

Sebelum bertemu Mimi, kami singgah di rumah kerabat akang terlebih dahulu. Akupun memperkenalkan diri dan mereka dengan hangat menyambutku. Tak lama setelah itu, kami pun bertemu Mimi. Kata-kata yang pertama keluar dari Mimi adalah "Alit keneh wae-nya neng melan mah..", dengan tawa renyahnya.

Mimi yang ku ingat dulu adalah wanita yang berperawakan sedang, kurus, dan berkaca mata min tebal. Tapi kini, beliau cukup gemuk, namun kaca mata min tebal itu sudah di musiumkan dan berganti kaca mata yang lebih simple, namun tetap menjaga pandangan matanya. Banyak cerita yang keluar dari kami, tentang aku, tentang dia, tentang keluargaku dan keluarganya. Bahkan aku tak canggung memanggilnya dengan sebutan "Mimi". 

Haripun telah senja. Tak terasa kami mengobrol begitu lama. Ketika aku hendak pamit pulang. Mimi melarangku pergi. Karena beliau takut terjadi apa-apa denganku, apalagi kini marak pemerkosaan di dalam angkot. 
"Tos nginep wae di dieu,melang mimi mah...kasih tau ke mamahnya melan, melan nginep di sini..", ucapnya padaku.
Tapi sungguh, aku tak enak hati untukku bermalam di rumah Mimi. Namun ketika Mimi meyakinkan lagi, tentang sulitnya kendaraan untuk pulang ke kota sudah jarang bahkan tidak ada. Akupun manut dibuatnya, dan Mamahku memberi izin untukku menginap di sana, yah walau pun ku tahu pasti hatinya gelisah dan Mamah berpesan "Hati-hati ya...di rumah orang, jaga sikapnya." *emang sikapku gimana mah?hehe :p

Ketika waktu menunjukkan pukul 22.26, aku lupa belum shalat isya, dan akupun keluar untuk mengambil air wudhu. ketika ku buka pintu kamar, aku dapati dia tengah tertidur pulas di ruang TV, kutatap wajahnya dalam-dalam, hmm...lelaki ini yang memantapkan hatinya padaku.

Esoknya pagi-pagi sekali, setelah berkeliling bertemu sanak saudaranya dan berziarah ke makam kakek-nenek serta sesepuhnya. Kami pun pulang dan wanita sederhana yang dia panggil "Mimi" berseru padaku dari kejauhan "Melaann....!!! Ameng deui nyaaaaaa!!!" dengan melambaikan tangannya padaku.
Aku pun sontak berteriak "Uhunn Miiiii.........!!" dengan senyum lebarku. :)




Lucky i'm in love with my best friend :)


Cirebon
16 Desember 2011
10.38 WIB

Semalam aku bilang pada ibuku, kalau teman lelakiku akan datang dan aku ingin memasak untuknya. Lauk yang sangat sederhana yang akan ku buat untuknya. Berharap dia senang. Ibuku langsung meng-iya-kan pendapatku.

Pagi tadi, aku ke pasar membeli segala bahan masakan yang akan ku masak nanti...hmm ‎​pukul 08.00 WIB dia baru berangkat dari Ciamis, masih lama pikirku.

Ponsel ku pun berdering, ternyata dia sudah sampai...cepat-cepat aku menjemputnya di tempat dia menungguku. Tak ingin dia menunggu lama, aku pun berlari menujunya.

Itukah? Itukah dia? Berperawakan tinggi, kemeja merah hati, jins, dan tas ransel di punggungnya.
Ketika kusapa "apa kabar Gus?", dengan senyum simpulku.
"Baik mel..", berbalik senyum kepadaku.
"Ini beneran Agus?", sambil tertawa diriku menatapnya
"Iya Meell...kenapa? beda ya?", tanyanya
"Iya..beda ya..", jelasku sambil mengerutkan kening, kemudian tersenyum lagi.

Kami pun berjalan menuju rumah ku. Berbincang disepanjang jalan, tak sengaja kutunjukkan rumah ayahku-mungkin dia heran, kenapa berbeda rumah-dan kami terus berjalan menuju rumah ku.

Sesampainya di rumah, kami pun masuk, ibuku langsung menyambut kami. Ternyata beliau tidak lupa akan sosok di depannya. Dulu yang masih kecil, sekarang tumbuh menjadi lelaki tinggi dan tegap.
Mereka saling bercerita, dan aku hanya tersenyum menatapnya-masih tak percaya, jika dia ada di hadapanku kini.

Aku mengajaknya untuk makan siang di rumahku.
Aku ingat ketika dia tiba-tiba mengirimiku pesan singkat, "Mee..ll kpn mkn bareng? hhaha"
"Iya nanti juga ada saatnya kita makan satu meja gus...hehe", balasku.
Dan ternyata, apa yang dia inginkan hari ini terlaksana. Kami makan satu meja, dirumahku.

Tak perlu menunggu lama, kami pamit untuk keluar rumah.
Sepanjang perjalanan, kami sibuk menceritakan memori yang berdebu dan usang. Tertawa bersama atas kekonyolan-kekonyolan masing-masing.

Tak hentinya dalam hati, aku mengucap syukur, atas kehadirannya kini dalam hidupku. Matanya yang coklat terang, mampu membuat denyut jantungku berdetak lebih cepat....lalu pertanda apakah ini?

#sayangakang

Senin, 12 Desember 2011

...dan ku temukan jawabannya...

Kita sama-sama faham arahannya kemana
Inget looh pertmuan kita karena izinNya

Benar, Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu,
Tetapi juga bukan untuk mengumbar perasaan…
Seperti air yang dipanaskan lalu bergejolak, setelah itu menguap begitu saja…

Terdiam sejenak ketika kemudian …
Berikan kesempatan Ta’aruf, bukan dalam artian, disengaja tidak menghasilakn output yang kita harapkan. Niatkan ikhlas silaturahmi

Aku lelah untuk terus mengejar cinta…
Namun cinta yang satu ini adalah untuk mendapatkan ridha Allah

Ketika ada seorang lelaki yang memantapkan hati pada wanita yang dicintainya
Wanita mana yang tak menyunggingkan senyum termanis di bibirnya?
Pun sang wanita tak ragu untuk memantapkan hati padanya

…bismillahirrahmanirrahim..
 
Jika memang ini adalah jawaban atas tiap bulir air mata di malam-malamku
Maka aku akan menjalaninya dengan ikhlas ya Rabb

Tujuan kami sama…
Tak ingin mengulang kesalahan di masa lalu
  

-----------

dan ini berawal dari..
“Assalamu’alaikum..

Aguuuuuusss…
Inget teu k melan?? ;D  ”
20:50:31
03122011

Menapakimu......Lawu (Part 3)

Cerita sebelumnya...
Kejadian copet tadi membuat seisi gerbong waspada, tak terkecuali aku. Itu adalah pelajaran yang patut kita petik hikmahnya, kita sebagai manusia harus tetap terjaga dengan keadaan di sekelilingnya, waspada dalam situasi apapun.
 
Badanku remuk redam. Dan kami belum juga sampai Solo. Sedangkan sang surya sudah menampakkan dirinya dengan sinarnya yang cerah. Tak berapa lama lagi kami akan sampai di stasiun Solo Jebres—mungkin.
Pukul 09.00 WIB, kami sampai di stasiun Solo Jebres. Lumayan sepi stasiun ini, apa karena masih pagi? Pikirku. 

Kami berlima menyusuri jalan rel kereta api untuk menghemat waktu. Karena kami harus mengejar bis yang menuju Tawangmangu. Melihat sekeliling kota Solo dari kaca bis, ternyata tidak jauh berbeda dari kota-kota lainnya banyak bangunan di sana-sini, kecuali yang membedakan adalah bahasa. 

Sesampainya di terminal Tawangmangu, kami harus menaiki mobil sejenis mikrolet untuk tujuan kami yang terakhir yaitu Cemoro Sewu. Tak lama kami turun dari bis, orang-orang berhamburan menghampiri kami untuk menawarkan tumpangan. Keterlaluan memang, ada salah satu sopir yang memaksa kami untuk ikut mobilnya, padahal di dalam sudah penuh sesak, mau ditaro dimana kami berlima plus bawaan kami? Walaupun berjalan cukup alot untuk lepas dari supir itu—tentu saja si supir tidak mau rugi mendapatkan tumpangan seperti kami, yang mungkin menurutnya akan mendapatkan banyak untung—tapi akhirnya kami dapat tumpangan yang lebih layak untuk kami tumpangi.

Ku hirup udara dalam-dalam, hmmm…udara di sini sungguh sejuk, bertolak belakang dengan keadaan sewaktu kami menaiki kereta, dimana semua bercampur aduk menjadi satu, sumpek, bau, berisik, pedagang yang hilir mudik menjajakkan makanan, copet, dan lain sebagainya. Aku merindukan udara seperti ini, pikiranku melayang kembali ke masa silam—dimana aku dan keluargaku merantau ke daerah Ciamis, daerahnya dingin sama seperti di sini. Setiap pagi jika akan berangkat ke sekolah, aku dan kawan-kawanku terkadang memperagakan orang yang sedang merokok, mengeluarkan embun dari mulut kami, mempermainkannya seolah kami sedang menghisap rokok. Tersenyum sendiri, mengenang kekonyolan kami waktu kecil. Rasanya ingin kembali lagi ke masa-masa itu, namun di sisi lain aku tak ingin merasakan rasa sakit dan benci seperti yang kualami dulu.

Kulayangkan pandang dari kaca jendela mobil, tentram sekali penduduk disini, pikirku. Melimpah akan hasil bumi, karena ku lihat di kanan dan kiri terbentang perkebunan wortel dan beraneka macam sayuran.
Penumpang terakhirpun turun, itu berarti hanya tinggal kami berlima di mobil kecil itu. Jalanan yang berliku dan menanjak kami lalui untuk sampai tujuan. Ku lihat dari kejauhan bangunan-bangunan rumah yang tersusun unik, namun tidak terkesan padat seperti di kota, serta tak bosan-bosannya aku menyapu seluruh kawasan hijau yang kami lalui. Jauh dari keramaian kota. Ini yang aku cari! ;)

To be continue….

Sabtu, 10 Desember 2011

Berburu Souvenir di Asemka

Hullaaaaaa....kawan-kawan!!
ketemu lagi ma gw..
mo berbagi cerita ni ma kalian...hehe

Yeay!! Ini adalah perburuan waktu gw nyari souvenir buat nikahan kakak gw di Asemka. Kalo dari Depok bisa naik kereta jurusan kota (kebetulan rumah gw di Depok). Turun di Stasiun Kota deh, abis itu tinggal jalan kaki aja bentar, ga usah naik angkot, soalnya deket banget. Kalo kalian ke Asemka bakal nemuin banyak macem deh,,dari mulai souvenir, aksesoris (jepit rambut, karet, kalung, bros, giwang, gelang, dll), mainan anak-anak, alat tulis, kosmetik, tas, sampe perlengkapan bayi juga ada di sana. Dan yang pasti musti siapin stamina buat hunting-huntingnya. Udah ah kebanyakan ngomong ni gw...biar gambar yang berbicara ya kawan.. ;)

Ikat Rambut


Gelang

Macem-macem Gantungan Kunci

Gantungan Kunci

Macem-macem Ikat Rambut

Gelang Giok



Pembuka Tutup Botol







nah itu baru sebagian kecil kawan...klo mo lebih jelasnya dateng aja deh kesana, berbagai macam barang ada di sana, bahkan berbagai manusiapun ada di sana..hehehe. 
Owya ini ada linknya juga lho... http://www.asemka.com/

Selamat menikmati.... (^.^)v

Selasa, 29 November 2011


Kangen jalanan ini....
naik becak...terus kelopak bunganya berguguran kaya salju...

pengen pulang......

Depok
29 November 2011
16.18 WIB

Sungguh senang tak terkira ketika kudapati pesan singkat darimu. Aku bahagia untukmu, karena ini adalah sesuatu yang sangat kau nanti-nanti. Aku ingin sekali ada di sana, melihatmu menjadi pembicara, menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang di tujukan padamu. Tapi tak apa, aku akan menunggumu di kotaku. Ya..aku akan tunggu.. :)

Jangan berhenti di sini. Teruslah berkarya dengan segala kreativitasmu. Tuangkan segala yang ada di benakmu. Agar semua orang membaca karyamu dan meresapinya hingga ke jiwa. 



...dan aku di sini tak lelah mendo'akanmu...

Senin, 28 November 2011

Depok
27 November 2011
20.43 WIB

Mengikuti kata hati adalah yang terbaik…

Ketika segalanya naik kepermukaan, disitulah kita mulai di uji, apakah akan tetap tinggal atau melangkah pergi...

Hmmm dan aku?
Aku menatap jauh ke depan
Pun tak menghakimi masa lalu

Namun, datanglah padaku saat kau tak temukan arah....
Layaknya lembayung yang setia pada senja
Aku ada untukmu...

Rabu, 23 November 2011

Senin, 07 November 2011

Idul Adha 1432 H

Cirebon, 6 November 2011
20..12 WIB
Gema takbir berkumandang diseantero kampung kecilku, Drajat. Dari petang hingga dini hari tadi, tak henti-hentinya takbir dikumandangkan. Hari ini tepat perayaan Idul Adha 1432 H.
Pagi tadi aku tidak mengikuti shalat Ied-inilah yang membedakan kaum Adam dan kaum Hawa, Allah telah memberikan suatu kelebihan kepada kaum Hawa yang tidak dimiliki kaum Adam.
Ketika jarum jam menunjukkan di angka 10 lewat, kakak sepupuku-mas Sofyan- ke rumah untuk mengajakku "nyate" dirumahnya.
Yaaah ini adalah hasil jepretanku siang tadi...cekidot yaa... ‎​‎​​°\(^▿^)/°♥°\(^▿^)/°

haaaaaaaaa.... inilah saudara-saudaraku, kompak kalo soal beginian. Ini ceritanya lagi pada nusukin daging,,,,,,*Ang Ani mandore ;p

hasil dari tusuk menusuk..
tersenyum girang karena ternyata sudah mirip dengan tukang sate keliling... *eh!


naah..ini juga saudara-saudaraku. Mang Nono adalah orang yang sangat berperan penting dalam pelaksanaan terselenggaranya sate menyate ini *halah!! -tuuuh liat aja..semangat '45 cuy ngipasie-Mas Opoy sibuk ngulitin kepala mbe..diriku? duduk anteng..hehe
aku dan sepupuku, Ang Ani
Ang Iyan,,,,apa mendelik-mendelik??
bantuin ceritanya...
yang tak patah semangat..!! LANJUTKAN MANG!!!!
yaaah beginilah...hasil kipasan pertama, langsung dijarah oleh sang Lintang-dikepusi dikit ya Tang, ambiran adem...fuuuh fuuuh fuuuh...
Tooong tooong....dudu manjing bae kah, malah gandulan ning rajeg je...ckckck
ana sing nyelap tah Ang??
dengan muka bangga dan sotoynya memamerkan gentong yang selalu dibawa kemana-mana... *tobaaaaatt!!
tau maaaass...ga jauh beda ko emang.... ;p
gaya ke-1

gaya ke-2
gaya ke-3
gaya ke-4
gaya ke-5 (pindah tepat, kepanasen je...)
dan eng ing eng.....kepala mbe yang udah dikuliti...iiissshhhhh!!! nyeremin!!!
naaaaah ini dia yang ditunggu..*hwahahahahaha!!! -tawa kemenangan-

Tak sabar  , untuk berkumpul lagi dengan kalian...... miss u so much :*




Selasa, 01 November 2011

Depok Baru, 1 November 2011
12.18 WIB

Udah masuk stasiun UI....masih banyak stasiun kecil lagi yang harus ku lewati bersama commuter line ini. Suasana kereta tidak begitu padat. Alhamdulillah masih bisa dapat tempat duduk, walau sempat berdiri sebentar. Kuambil ponselku dan langsung ku putar lagu yang ada di playlist...hmm ternyata lagu dari miliknya Ricard Clayderman "Love Story"...semakin menambah semarak kegalauan hati...

Menuju Gambir rasanya ada sesuatu yang tertinggal entah dimana.

Jakarta Pusat (Gambir)
12.55 WIB
Sampai di stasiun Gambir, sepertinya banyak yang mudik...sama seperti aku. Penuh. Tak menunggu lama, keretaku datang menuju rumah tercinta. Hmm...kereta 3, 1A, bisnis-biasa merakyat. Aku duduk disamping jendela-yang buram. Tak lama setelah aku duduk, seorang wanita paruh baya menghampiriku, bertanya dimana gerbong 2. Dan usut punya usut ternyata tempat yang aku duduki sekarang ini adalah gerbong 2. Sungguh memalukan, setiap waktu naik kereta Cirebon Express masa aku masih salah naik juga??? -Ngalamun waè tuda si melan mah! Hahaha ;D

Akhrinya kususuri lorong gerbong yang sempit itu menuju gerbong 3. Sampailah aku di tempat yang seharusnya aku tempati. Kali ini aku duduk di samping jalan dimana orang hilir mudik, karena tempat duduk di sampingku yang dekat jendela sudah terisi penumpang lain. Lelaki, seusiaku-dilihat dari perawakan dan air mukanya-mengenakan topi berwarna biru. Ternyata dia ke Jakarta dalam rangka "main". Tak banyak yang kami biacarakan hanya sekedar menanyakan tujuan kami sesampainya di Cirebon.

Gambir
13.30 WIB
Keretaku melaju.....anggun. Ini yang aku rindu-bunyi roda kereta berputar ketika bergesekan dengan rel kereta, menimbulkan suara yang khas.

Cuaca di luar cerah...secerah hatiku menyongsong mereka yang ku cinta di rumah. Tak sabar untuk segera di pelukanmu, mah... ‎​‎​(˘⌣˘)ε˘`)



Cikampek
14.38 WIB
Orang disampingku benar-benar pulas tertidur. Hampir saja terjatuh di bahuku....selagi aku menghindar, untungnya dia cepat tersadar dari tidur panjangnya. Ckckck....mungkin merasa malu-atau entah apa, dia langsung ke kamar kecil.

Aku sungguh menikmati perjalanan ini. Memandang jauh ke luar sana lewat kaca jendela-kali ini kaca jendela yang retak-permadani hijau terbentang luas...diselingi rumah-rumah yang jaraknya berjauhan...lalu kembali hamparan terbentang dengan kambing-kambing yang digembalakan oleh seorang lelaki tua dan sesekali melewati sungai berwarna keruh dengan para bocah yang tanpa beban dan tawa riangnya bermain air. Ku pandang lagi, kini pemandangan yang tersaji adalah hamparan sawah yang gersang dan tanah yang kering kerontang sampai terlihat retakkannya-entah kapan terakhir kali hujan turun di daerah ini. Kontras dengan apa yang kulihat sebelumnya.

Meskipun begitu, tak kualihkan pandangannku dari kaca jendela yang retak ini...

*tadi mamah telepon, "udah nyampe mana?"

Antah Berantah (ga tau di mana)
15.10 WIB
Sungguh perjalanan ini mengasyikan...
Menyapu seluruh pemandangan di luar sana dan entah di mana sekarang aku berada.

Arjawinangun
16.10 WIB
Ku layangkan pandangku ke luar jendela, hari telah senja. Indah kulihat sore ini...bahwasannya untuk beberapa hari kedepan aku dalam dekapan keluargaku di sana.

Masih...yang tersaji di luar sana hamparan gersang, hmmm...mungkin penanaman bibit baru, akan telat dari yang telah direncanakan...

*Yess bentar lagi nyampee Cerbooon..

Stasiun Besar Cirebon
16.30 WIB
Wah!! Kaget aku!!
Banyak sekali yang berubah dari stasiunku ini...Lebih bagus!
Tapi mengapa aku merindukan suasana stasiun yang lama ya?
Mmm...kesannya lebih klasik saja.

Kini, telah di bangun lorong bawah tanah. Sama seperti stasiun Depok Baru, bedanya kalau di stasiun Cirebon lebih bersih-karena bangunan baru-kalau Stasiun Depok lama, sudah penuh sesak, kotor, banyak pedagang kaki lima, beragam manusia pun ada di sana.

Kutunggu kakak sepupuku yang akan menjeputku di stasiun ini. Sekitar menunggu 10 menit, datanglah dia dengan motornya. Menyusuri jalan raya di kotaku tak ada yang berubah secara signifikan. Hanya beberapa bangunan baru atau tempat yang dulunya pernah ku kenal, kini beralih fungsi menjadi tempat lain.

Drajat
16.48 WIB
Motor diparkir di depan rumah. Terlihat dari kaca jendela ruang tamu, papah dan mamah-tumben beliau berdua duduk bersanding. Aaaaah dan ternyata kaki papahku sedang dipijit-pijit oleh mamah. Aku masuk ke rumah, mengucapkan salam, dan menciumi tangan kedua orang tuaku itu.

Bersyukur ya Allah masih dapat mencium tangan kedua orangtuaku.
-Kini aku berusaha untuk melupakan apa yang telah papah lakukan terhadapku dan keluargaku...sungguh...Aku takut kehilangan keduanya (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
Depok, 31 Oktober 2011
22.17 WIB

Penghujung bulan Oktober, ga kerasa...begitu banyak cerita yang terukir di bulan ini, ada yang pahit -rasanya sulit untuk menelan dan bernafas, terkadang menghujam jantung, membanjiri pipi hingga terkuras habis, dan kecewa-dan ada pula yang manis-bahagia tak terkira, bahkan sampai senyum-senyum sendiri, gelak tawa, berbagi, memahami, kejutan, dan kejujuran.

Hmm...biarkan semuanya seperti air mengalir dan menemukan muaranya sendiri bahwa di luar sana masih banyak petualangan yang belum terjamah...

*SEMANGAT NOVEMBER!!!!!!
♥°\(^▿^)/°♥♥°\(^▿^)/°♥

Sabtu, 29 Oktober 2011

Depok, 29 Oktober 2011
17.40 WIB


Lagi suka banget lagunya "Someone Like You"-Adele
Hmm...pas banget kayaknya.. Hehehe *tertawa getir
Yang belom punya ayo ayo download lagunyaaah


...

"Never mind, I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you, too
Don't forget me, I begged, I remember you said
Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead"

...

Rabu, 26 Oktober 2011

Sepucuk surat untuk belahan jiwaku..

Assalamu'alaikum...

Mungkin ini akan terdengar sedikit gila untukmu, wahai kekasih hatiku dimanapun engkau berada
Tapi tunggu dulu,,!
Sebelum aku mengungkapkan isi hatiku ada baiknya engkau menghilangkan prasangka yang mengganjal di hati tentangku
--sudah??--

Kalau masih belum bisa, tolong benar-benar bersihkan dahulu jiwamu itu tentang hal yang tak berkenan tentangku, lihat aku dari sisi yang lain...
--sungguh?sudahkah?--

Baiklah...mari kita mulai saja ya sayang...

Kekasihku...
Tahukah engkau, jika aku sebenarnya menunggumu sejak lama...
Namun engkau tak kunjung datang jua
Bahkan aku tak tahu engkau di belahan bumi mana
Bagaimana rupamu
Bagaimana sikapmu
Bagaimana pribadimu
Berjuta pertanyaan ada di benakku tentangmu...

Mungkin Allah belum mempertemukan jalanmu padaku...

Kekasih hatiku siapapun engkau...
Beribu tetesan hujan yang jatuh ke bumi tak 'kan tergantikan dengan tetesan air mata disetiap malam-malamku untuk memohon padaNya
Agar jika engkau datang kepadaku, engkau diberi kesehatan untuk tetap menjaga hatiku yang rentan sekali rapuh
Diberi kemudahan untuk melangkahkan kaki menuju jiwaku yang kelam dan berharap engkau akan membawa pelita bagi ruang jiwaku
Diberi rizqi lahir batin yang melimpah untuk membahagiakanku yang dengan senyum tulusmu akan mengantarkan kita pada gerbang kebahagiaan
Diberi umur yang cukup untuk selalu setia menemani hari-hariku yang kosong, dengan hadirnya engkau hariku mungkin penuh dengan makna
Diberi kesabaran untuk menghadapiku ketika aku khilaf nanti dan berharap engkau meredakanku layaknya hujan di padang gersang...

Duhai kekasihku yang masih dirahasiakanNya...
Dunia ini memang begitu luas
Namun cintaku padamu melebihi luasnya dunia ini
Meski rupamu belum aku ketahui
Namun yakinlah cinta tulusku hanya untukmu
Inilah ungkapan hatiku padamu
Meski kau tak tahu siapa aku
Namun aku yakini Allah akan mencintaimu dan menjagamu untukku

Wahai kekasihku yang akan menjadi imamku kelak...
Penantian ini terasa begitu panjang untukku..
Sempat terpikir untuk tak menginginkan adanya ikatan hati suatu hari nanti denganmu
Namun aku hanyalah insan yang menginginkan keridhoanNya dengan menjalankan sunnah RassulNya
Dan kembali mengingat ayatNya
"Bahwa setiap manusia diciptakan untuk berpasang-pasangan"
Lalu aku yakini itu sayang...
Bahwa suatu hari nanti engkau akan datang kepadaku
Dengan membawa hati dan cintamu yang tak terbendung untukku

Allah mungkin sedang menguji kita sayang...
Sampai mana batas kesabaran kita

Namun cintaku...
Jika memang Dia belum mempercayakan kepadaku seorang "engkau"
Maka aku akan bersabar menantimu...
Walau harus beribu malam kulalui dengan linangan air mataku
Jika memang linanganku adalah yang terbaik untukNya...
Aku ikhlas....

Wahai belahan jiwaku...
Jika memang namamu yang tertulis di Lauful Mahfuz
Allah pasti pertemukan kita
...cepat atau lambat
Dan aku tak 'kan lelah menanti...

Sabtu, 22 Oktober 2011

Depok, 22 Oktober 2011
10.00 WIB

Kamrin sore Depok di guyur hujan...hujan yang sangat lebat...bahkan disertai angin kencang dan petir. Sempat terpikir olehku "di rumah banjir ga ya?"....tapi sepertinya para tukang pembuat gorong-gorong--yang memperbaiki saluran mampet--sudah bekerja semaksimal mungkin...hmm mungkin ga akan banjir lagi..
Tapi tetap saja rasa khawatir itu muncul. Karena tak ayal lagi, aku harus menguras rumah yang lumayan "menguras" seluruh tenagaku.

Mmmmh...mari kita kesampingkan kekhawatiranku sebentar ya--lagian juga sudah teratasi oleh para tukang,,hehe.

Bicara tentang hujan...hujan adalah sesuatu yang begitu indah--menurutku--kenapa?karena dia menyirami daerah gersang yang tak tersentuh air setetes pun, membuat kuntum bunga bermekaran, mewangikan tanah, rumput, pohon, bunga, yang memiliki bau yang sangat khas--membumi sekali, aku sangat suka bagian ini--, menghilangkan peluh yang sarat akan tuntutan, melihat para bocah berlarian kesana-kemari di bawah guyuranmu, menimba rezeki dengan payung digenggaman yang bergetar karena dingin menusuk tulang, melelapkan mata yang terhipnotis akan merdunya nyanyianmu, menghilangkan rasa rindu yang membelunggu jiwa, merecall kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati, menitikan air mata di saat tak ada bahu untuk bersandar, disamping semua itu yang paling membuatku menanti datangnya hujan adalah berdoa ketika hujan turun karena Dia membawa rahmatNya ke bumi. Dan itu adalah salah satu do'a mustajab yang insya allah, Allah akan kabulkan. Subhanallah......

Ada hal lain lagi yang membuatku begitu rindu akan datangnya hujan....hmmm...menilik jauuuuh kebelakang, walaupun hanya terjadi beberapa menit saja...tapi begitu membekas hingga sekarang. Yaaaah,,seperti yang kubilang tadi "merecall kenangan yang tersimpan rapi di sudut hati dan nyayian rindu itu selalu abadi".

Bagaimana pun yang namanya kenangan itu selalu akan tersusun rapi di rak hati ini. Sepahit apapun kenangan itu dan tentunya dengan melupakan rasa sakit diwaktu lalu, namun peristiwanya tak 'kan dapat kita lupa bukan? ;)

Aaah sudah sudah...yang pasti aku selalu bahagia disaat hujan turun... Karena akan selalu terucap do'a yang kupanjatkan untuk orang-orang yang kusayang (‾ʃƪ‾)

Allahumma shoyyiban naafi'aa....

Senin, 17 Oktober 2011

Menapakimu......Lawu (Part 2)

Cerita sebelumnya…
Sesampainya stasiun Tanah Abang kawanku yang lelaki memesan tiket, sedangkan aku dan Dewi mencari mushola terdekat untuk melakukan shalat maghrib. 

Selesai shalat aku langsung memakai sepatuku, khawatir mereka lama menungguku. Ternyata Dewi menungguku shalat dan dia berkata,”Me, kayaknya ada sedikit masalah deh…”
“Hah?! Masalah?!”, tanyaku cemas.
“Iya..! tadi ada masalah tiket me, si Zibow udah marah-marah aja tuh ma pegawe tiketnya, harga tiketnya dinaekin Rp.5000,-, sekarang sih udah selese kayaknya“, cerita Dewi cepat.
“Ya ampuuun…ko bisa gitu sih? Aneh banget!!”, jawabku ikut-ikutan kesal. Karena bagiamanapun, kalau sudah menyangkut soal uang, sensitivitas akan tiba-tiba meningkat mengalahkan wanita yang sedang PMS (premenstrual syndrome)—hehehe.
“Iya tau tu….! Yuk naek kereta, anak-anak udah di sana”, ajak Dewi padaku sambil menyerahkan tas yang kutitipkan tadi padanya. Akupun turut dibelakangnya.

Kami pun masuk kereta kelas Ekonomi itu,”hmmm…sumpek”, pikirku sekilas. Aku, Dewi dan Ripal menyusuri gerbong kereta yang di kiri-kanannya sudah dipenuhi oleh beraneka macam orang-orang yang hendak pergi dengan tujuannya masing-masing. Mereka menatap kami seperti orang dari belahan bumi yang berbeda. Betapa tidak, Ripal dengan tas Carier yang super besar—mungkin badanku juga bisa masuk tas itu jika meringkuk—sedangkan Dewi dan aku menggendong tas ransel dan tas kecil yang kami selempangkan—tempat praktis untuk mengambil barang-barang yang sangat diperlukan. Belum lagi mereka melihat Dado dan Zibow, yang juga sama seperti bawaan Ripal. Namun sejak selesai shalat maghrib tadi, aku tidak melihat mereka berdua.
Mungkin Ripal menangkap air mukaku yang bertanya-tanya dimana Dado dan Zibow “Ada, mereka di belakang me..”, kata Ripal.
“Ooooh…”, jawabku sekenanya.

Akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang satu bangkunya cukup untuk tiga orang, walaupun agak sedikit sempit. Kami pun duduk bersandar dan melihat keadaan disekeliling kami.
“Terus, yang laen duduk di mana?”, tanyaku pada Dewi.
Tetapi Ripal yang menimpali, “mereka mah bisa duduk dimana aja mee..”. Oh iya, tentu saja mereka bisa duduk dimana saja, secara mereka kan kerja di PJKA. Mereka ikut pendakian ini, karena mereka sedang libur dari tugas.

Bangku di hadapan kami terisi oleh sepasang suami istri, dimana sang istri sedang hamil 5 bulan dan satu lagi perempuan—mungkin kerabat dari salah satu pasangan ini—dan tujuan mereka adalah Pekalongan. Tak jauh dari tempat duduk kami, ternyata ada saudara dari Zibow yang juga hendak pergi ke Solo.

Kami menunggu jarum jam sampai di angka 7, tapi ternyata transportasi di negeri kita tercinta ini selalu saja tak tepat waktu—ngaret, apa harus dimaklumi terus hal semacam ini?

Udara di gerbong saat itu benar-benar tidak bisa kompromi. Bahkan hanya duduk pun, peluh kami keluar dengan sendirinya. Sepertinya ini akibat oksigen yang kami hirup secara berebutan di gerbong, sehingga karbondioksida yang dihasilkan melebihi udara yang kami hirup. Yang tidak habis pikir, ada saja penumpang yang merokok disaat udara kian menipis!! Terkutuklah si perokok itu!!

Sepertinya ini akan menjadi perjalanan yang teramat sangat panjang, kurang lebih memakan waktu 12 jam. Kereta pun perlahan-lahan melaju dengan kecepatan maksimal. Aku melayangkan pandang ke luar jendela. Malam, penuh dengan kerlipan lampu-lampu yang berwarna-warni—yaaah itulah kenapa Cirebon dikatakan kota berintan—selain Kota Udang, karena posisi Cirebon yang berada di dataran rendah dan jika dilihat dari atas pada malam hari akan bertebaran ratusan cahaya kerlap-kerlip yang berwarna-warni nan indah bagai intan bertebaran dimana-mana, dan hal ini mengingatkanku pada kejadian 21 tahun silam yang tak kan pernah ku lupa sampai saat ini—menambah semarak malam kepergianku menuju Solo.

Pukul 00.00 lewat, kereta kami berhenti di Cirebon, ingin rasanya turun dan pulang ke rumah. Hmmm..pasti mamah dan saudara-saudaraku sudah terlelap di buai mimpi. Ponselku berbunyi, ah ternyata SMS dari kakakku yang ke tiga, Mas Farid.
“Udah sampe mana nyon?”, isi SMS yang dia kirimkan—hanya dia yang memanggilku “Menyon”, entahlah dari mana awalnya mungkin plesetan dari namaku sendiri “Melani”. Walaupun begitu aku senang-senang saja dipanggil dengan sebutan itu, mungkin lebih kepada panggilan sayang.
Dah sampe Cirebon nih…pengen pulaaaaang…”, rengekku.
Yaah tau gitu sih, mas ikut kamu aja ke Lawu…”, balas smsnya.
Aaaah ga ga…yang ada malah gangguin lagi..”, jawabku.
Hahaha..Ya udahlah, ati-ati disananya…”, pesannya padaku.
Iyaaaa…..”, jawabku singkat.

Kereta berhenti cukup lama di Cirebon, ini dimanfaatkan penumpang untuk pergi ke kamar kecil atau sekedar menghirup udara malam yang segar, karena di dalam kereta sudah tidak karuan lagi seperti apa udara yang di hirup. Ini pun dimanfaatkan Dewi yang dari tadi ingin ke kamar kecil. Aku keluar untuk menghirup udara malam kota Cirebon. Banyak penumpang yang keluar juga untuk melepas lelah karena duduk terlalu lama, atau bahkan sudah tidak bisa merasakan lagi pantat mereka *hahahahah :p* selama perjalanan tadi.

Setelah satu jam berlalu, kereta melaju lagi dengan kecepatan maksimal dan meninggalkan Cirebon, kota kelahiranku. Kami pun terlelap untuk beberapa saat, setelah melewati beberapa stasiun kereta, tiba-tiba seluruh penumpang di gerbong yang kami tumpangi dihebohkan dengan adanya pencopetan yang ditaksir lebih dari satu orang pelakunya, si pelaku mencopet HP dan dompet dari salah satu penumpang laki-laki. Aku pun sebenarnya sempat panik, karena bisa saja orang yang disebelahku pelakunya—Ripal donk *eh!! ;p

“Apa yang ilang mas??”, tanya para penumpang
“HP sama dompet saya!! Tadi saya lagi duduk di bawah, HP ada di saku depan kemeja saya! Dompet di saku celana belakang! Haduh gimana ini?!”, jawabnya panik.
“Oooo kayaknya yang banyak orang jualan bolak-balik itu kali ya,,biasanya mereka ga sendiri, tapi banyakan, udah joinan gitu sesama pedagang”, kata seorang penumpang yang sepertinya tahu tentang seluk beluk kereta ekonomi ini.

Sempat ada seseorang yang Dewi curigai, dan menyuruh Ripal untuk menanyakan warna HP yang hilang. Namun ternyata orang yang dimaksud Dewi bukan pelakunya.
Tak lama setelah itu, kejadian serupa pun terjadi lagi, namun kali ini di gerbong sebelah yang kebetulan Dado dan Zibow berada tak jauh dari situ. Dia mengirimi SMS ke Ripal kalau di gerbong sebelah juga ada yang kecopetan—hmmmm..nasiiiib,nasiiib…beginilah hidup merakyat, harus menelan pil pahit kenyataan hidup.

Kejadian copet tadi membuat seisi gerbong waspada, tak terkecuali aku. Itu adalah pelajaran yang patut kita petik hikmahnya, kita sebagai manusia harus tetap terjaga dengan keadaan di sekelilingnya, waspada dalam situasi apapun.

To be continue….

dado ma zibow @kereta ekonomi AC