Selasa, 13 April 2010

Eli seorang gadis cilik....

Tak begitu banyak yang diketahui gadis cilik, dekil, dan ingusan ini. Dia berjalan menyusuri jalan raya, yang menjadi bagian dari hidupnya. Sejak lahir dia tidak tahu siapa ibu dan bapaknya, karena begitu dia lahir dia langsung di jual kepada orang yang membuat hidupnya kini harus bersahabat dengan jalanan. Sungguh tega orang tua yang menjualnya hanya untuk uang lima ratus ribu rupiah dan alasan mereka adalah karena mereka miskin dan tidak bisa menghidupi 5 orang anaknya yang saat itu masih kecil-kecil.

Eli, gadis cilik yang dijual ibu bapaknya, kini harus mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri dan orang yang mengasuhnya atau lebih tepatnya orang yang membelinya. Tidak hanya Eli, tapi masih ada teman-teman Eli lainnya yang bernasib sama. Mereka pasrah akan kehidupan yang mereka jalani saat ini.

Eli, gadis cilik yang bermimpi menjadi menteri, yang setiap pagi melihat anak-anak berangkat sekolah dari seberang jalan, sambil duduk di trotoar. Membaca pun dia tidak bisa, dia hanya bisa menghitung uang receh demi receh. Huruf yang dia tahu hanya E, L, dan I.

Eli, gadis cilik yang tidak tahu apa itu cinta dan kasih sayang, karena kerasnya kehidupan yang jauh dari orang yang dicinta, membuat hatinya sekeras batu. Berteman dengan kepalsuan, kekerasan, ketamakan adalah sesuatu yang sering dijumpainya setiap hari. Tapi dia masih begitu hijau untuk mengenal itu semua.

Eli, gadis cilik yang tak seorang pun menyayanginya, berusaha meminta belas kasihan dari setiap orang yang dia temui setiap hari. Tapi dia masih belum juga menemukan orang yang menyayanginya dengan tulus.

Eli, gadis cilik yang setiap malam menangis, kedinginan melanda relung hatinya.

Eli, gadis cilik yang selalu mencari jawaban dari apa yang dia dengar dan dia lihat.

Eli, gadis cilik yang masih rapuh,,,

Namun tertanam kokoh di hatinya untuk tetap bertahan walau harus tertatih.



mellanie_imoet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar